Suara jangkrik dan gemrisik Garengpung beradu dengan dinginnya malam. Sayup-sayup terdengar seolah melantunkan tembang-tembang macapat. Angin pun tak mau kalah. Silirnya tak henti menerpa dedaunan dan menimbulkan bunyi menderit pada bambu-bambu yang masih muda. Semua mengisyaratkan kalau malam memang sudah semakin larut, dan penanda segenap mahluk untuk segera kembali ke peristirahatannya masing-masing. Bahkan bapak-bapak di gardu ronda telah menyudahi patroli dan memilih mendengarkan radio buntut. “Sampun dalu,” begitu bisikku padamu dengan bahasa jawa, yang berarti sudah malam. Kata-kata itu tiba-tiba menusuk ingatanku. Selintas mengingatkanku pada sebuah nama. Dia yang belakangan ini selalu kurindukan. Memori-memori usang akan berjejalan menerobos dinding otak ini manakala mengingatnya. Padahal, ia selalu bersemayam dalam hatiku. Namun, aku mohon jangan pernah menanyakan mengapa. Toh, anda dan orang-orang di luar sana tidak akan mampu mengejawantahkan kerinduan seperti apa yang tengah kudera. Hanya aku, dan Gusti Allah yang Maha Tahu.
Sampun dalu
Bisikku padamu
Yang belakangan selalu kurindu
Padahal engkau pinarak di hatiku
Bisikku padamu
Yang belakangan selalu kurindu
Padahal engkau pinarak di hatiku
Sekali lagi kurajuk ia untuk segera menyudahi malam. Sedikit paksaan dengan mematikan lampu di teras depan. Berharap ia sadar kalau hari memang telah larut malam.
“Belum terlalu malam, Timur. Saya masih ingin berbincang denganmu. Tentang sajak-sajak, tentang sosial, politik, budaya, filosofi, atau apapun itu. Bisa kita mulai dari mana?”
Rasa kantuk telah mengakar di pelupuk mataku. Pikirku, ia telah lelah usai berdebat denganku tentang pemerintah yang hanya memikirkan kesenangannya sendiri melalui pembangunan lapangan golf. Sepertinya, ia masih ingin berbincang-bincang denganku mengenai masyarakat jawa yang semakin hari semakin melupakan akar budayanya. Namun, sungguh hari terlalu malam buatku. Esok masih banyak agenda yang berjejalan panjang yang perlu dituntaskan. Lebih baik diskusi-diskusi panjang dengannya dilanjutkan lain waktu saja, sergahku rasional.
***
“Sungguh sampun dalu,” kubisikan kata-kata itu ke telingamu. Tapi, kali ini dengan kondisi yang berbeda. Ia tidak lagi mengajakku berbincang tentang berbagai soal. Profesor Emeritus itu hanya diam. Tidak bergerak. Apakah ia marah karena ajakan diskusinya kala itu tak kuindahkan? Dan aku mulai merasa bersalah meninggalkannya begitu saja. Tidak setia menjadi rekan bicara, dan membiarkannya memikirkan segala sesuatu tentang negeri ini sendirian. Membiarkannya memikirkan nasib rakyat-rakyat miskin yang semakin tersisihkan. Sedangkan aku, memilih untuk terpejam.
Ia masih terbujur kaku tak berdaya. Aku kurang begitu paham penyebabnya. Yang kutahu, berbagai surat kabar menuliskan kalau ia tengah koma. Kata dokter, ia terserang stroke. Beranjak dari keprihatinanku, maka kuputuskan untuk menjaganya hingga ia tertidur nanti. Namun, kali ini aku semakin peka. Mengajaknya untuk segera terlelap bukan pilihan terbaik untuk saat ini. Matanya masih menatap langit-langit kamar rumah sakit. Tentu ia masih ingin mendengarkan ceritaku tentang tindakan-tindakan amoral pemerintah, kondisi perpolitikan yang semakin kacau, ataupun budaya kejawen yang semakin tersisih.
Ganti babak. Kukisahkan padamu tentang program transmigrasi, seperti yang dulu pernah kita bahas di emperan rumahku. Bahwa pemerintah hanya bernapsu memindahkan penduduk ke luar jawa untuk mengurangi kepadatan, tanpa memperhatikan nasib-nasib mereka setelahnya. Pada plot cerita ini, aku hanya mengulangi ulasanmu dulu terkait kekurangpekaan pemerintah dalam mengayomi rakyat. Tanpa aba-aba, matanya akan langsung bercucuran air mendengar narasiku. Nanar.
“Sungguh sampun dalu,” kalimat pungkasan dariku muncul kembali. Lidah telah kelu bercerita panjang-lebar sejak sore tadi. Keningnya lekas kucium dan kuucapkan selamat malam. Anehnya, kali ini terlihat ia menuruti ajakanku. Dipejamkan matanya perlahan-lahan. Urat-uratnya nampak mengendur. Napasnya mulai teratur. Segera saja kurebahkan tubuh di bawah kolong tempat tidurnya.
Suara perputaran jarum jam makin jelas terdengar, menjadi saksi bisu kesunyian malam. Pula dengan lukisan-lukisan markaban yang terpampang di sudut kamar, semakin nampak membiru dengan temaram lampu pijar. Membuat siapa saja yang memandangnya tak akan mampu bertahan lama, dan akan segera memilih menutup mata lekas-lekas. Sajak-sajak karanganmu mulai rebahan di dadaku. Lamat-lamat kulantunkan seolah kidung penolak bala. Agar kau tahu, bahkan kecintaanku padamu telah sampai pada ingatanku pada tiap larik syair-syairmu.
Sungguh sampun dalu
Bahkan tiktak jam telah pula membisu
Semua lukisan markaban membiru
Dan sajak-sajak mulai rebahan di dadaku.
Bahkan tiktak jam telah pula membisu
Semua lukisan markaban membiru
Dan sajak-sajak mulai rebahan di dadaku.
***
Sejak pesakitanmu, aku selalu bergantian dengan isterimu menjagamu. Berada di dekatmu membuatku tenang. Justru, kecemasan selalu mengurungku manakala tak kutemui ragamu kurang dari dua puluh empat jam. Ketakutan kehilanganmu, terasa lebih kuat daripada kesiapanku menjemput ajal. Aku ingat betul, di kamarku, kamar yang menjadi saksi bisu diskusi-diskusi panjang kita berdua, berulang-ulang kali bayanganmu membangunku dalam mimpi-mimpi buruk. Gelagapan mencarimu, tapi yang kudapati hanyalah guling dan sarung yang terlipat rapi, yang sengaja kau tinggal di kamarku. Ini laksana jantung yang terus berdetak tak beraturan mencemaskanmu.
Bukan hanya aku. Semoga saja benar begitu. Kulihat dunia luar sana, melalui koran-koran, televisi, internet, sampai radio-radio pun menyiarkan kabarmu. Pewarta-pewarta berita berlomba-lomba menuliskan kisahmu dan menanyakan kondisimu. Pun demikian segenap hati yang merindukan sosokmu saat berbicara lantang di atas podium, di seminar-seminar dan di atas sajak-sajak. Mereka mencari sorot matamu yang teguh pada kebenaran. Dan ketika mereka telah menemukanmu, sekonyong-konyong dilepaskannya segala sendu merindu. Telinga mereka mendengung, menantikan kembali suara nyaring nan mantap dari penyair berjuluk Sang Burung Perkutut itu.
Dari kamarku
Ialah jantung yang sungguh ungu
Kulihat dunia luar di sana mencari mripatmu
Dan ketika ketemu ia klotok segala sendu
Dari ruang tamu rumah kontrakanku
Ialah ilat sewarna kembang sepatu
Percakapan-percakapan kami tentangmu
Sewajah sorga yang dicrita kitab suciku
Aku
Kami dan kamu
Bukan bunga paru
Yang gampang layu
Ialah jantung yang sungguh ungu
Kulihat dunia luar di sana mencari mripatmu
Dan ketika ketemu ia klotok segala sendu
Dari ruang tamu rumah kontrakanku
Ialah ilat sewarna kembang sepatu
Percakapan-percakapan kami tentangmu
Sewajah sorga yang dicrita kitab suciku
Aku
Kami dan kamu
Bukan bunga paru
Yang gampang layu
Menunggu kau sembuh, kukumpulkan orang-orang yang merindukanmu itu di ruang tamu rumah kontrakanku. Kita berbincang-bincang mengenang lakon hidupmu. Dengan lidah kelu dan wajah tertunduk lesu mengingat pergerakanmu. Percakapan-percakapan kami tentangmu, tidak jauh-jauh dari pemikiran yang kau tularkan pada kami semasa dulu. Dalam suatu segmen, kami duduk melingkar dan membacakan sajak-sajakmu. Kemudian, sampai pada pemahaman kata demi kata. Dengan begitu, tidak akan sulit bagi kami menemui petuah tentang keadilan, tepo sliro, adat ketimuran, dan segala perbuatan beradab lainnya. Semua itu seolah-olah bercermin pada kitab suci, yang selalu mengingatkan manusia pada jalan kebaikan agar mampu menapaki surga.
Aku, kami dan kamu berusaha menuju alur pemikiran linier. Dan kita telah sepakat untuk meneruskan perjuanganmu. Bergerak melawan segala ketidakadilan, kerusakan, dan segala bentuk kenistaan melalui kemampuan kita masing-masing. Tekad telah satu bulat bahwa kita bukan bunga paru yang gampang layu. Tidak kendur termakan umur dan tidak mundur terpanah busur. Terus mengembang, semerbak mewangi, dan menumbuhkan cikal-cikal bunga baru yang kelak meneruskan langkah-langkah ini. Hingga semuanya nampak jelas membuat kami tersadar saat mencuci muka: bahwa mimpi itu bukan sama dengan kenyataan. Kami hanya segolongan yang amat sangat sedikit. Minoritas. Tragis.
***
Lagi-lagi masalah adalah ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan. Tak dapat dipungkiri, benih-benih yang digadang-gadang itu hanya sedikit yang tumbuh. Sekalipun ada, beberapa di antaranya menjelma menjadi kelas dua. Bukan bibit unggul seperti yang kami harapkan. Yang lebih satire, bibit-bibit itu memilih mewujudkan diri menjadi benalu. Dan beberapa induk semang justru memilih murtad dari alur seyogyanya. Mereka yang dulu menggadang-gadang, malah sekarang ikut-ikutan menendang-nendang. Lalu, siapa gerangan yang akan melanjutkan perjuanganmu?
Giliran pertanyaan itu yang menggelanyuti pikiranku malam ini. Seketika itu juga membuang kantukku jauh-jauh. Tapi, kau masih terbaring di ranjang pesakitan. Seperti orang tidur. Sangat tidak etis jika kugoyang-goyangkan tubuhmu untuk membangunkanmu, lalu bertanya kepadamu: siapa gerangan yang akan melanjutkan perjuanganmu? Tidak. Tidak. Tidak demikian. Aku yakin suatu saat ia akan bangun sendiri dan melangkah mencariku, untuk kembali mengajakku berdiskusi tentang apa saja. Dari sini, mulai kusadari bahwa memikirkan sesuatu hal gigantis secara sendirian itu sangat menguras pikiran. Saat kuabaikan ajakanmu membicarakan beberapa hal-hal besar itu, tentu energimu akan terkuras lebih cepat, dibandingkan bila ada imbuhan mulut dariku.
Kini, mencari kawan sepertimu selayak mencari jarum dalam tumpukan jerami. Semakin malam, bisikan iblis semakin menderu menawarkan diri sebagai penggantimu. Mengajukan permohonan kepadaku, serta berjanji kelak menjadi teman diskusi yang menyenangkan. Kemudian, tentu ia menyuruhku meninggalkan semua ajaran yang kau wariskan padaku. Duh, untung saja rayuannya tak serta merta kumakan mentah-mentah. Sajak-sajak karanganmu sekonyong-konyong menyelamatkanku dari segala macam marabahaya. Senandungnya melantungkan tembang penolak bala.
Maka, aku pun tak perlu memutuskan diri bersekutu dengan setan. Biarkan saja bibit-bibit itu memilih nasib menjadi kelas dua, benalu, atau petuanya memutuskan murtad sekalipun. Yang terpenting, aku tidak menjadi bagian dari mereka. Karena akulah yang akan melanjutkan perjuanganmu, bersama orang-orang yang masih dibelakangmu. Kami akan memilih berlindung pada Gusti Allah, seperti yang selalu kau dengungkan ke telingaku, telinga kami, dan telingamu sendiri. Pada Dzat Yang Maha Tunggal kami sepenuhnya menaruh kepercayaan dan kebaktian.
Dan kepada-Nya pula, kami akan selalu mendoakan kesembuhanmu. Loyal menunggu kebangkitanmu, dan selalu berada di jalan lurus seperti dalam sajak-sajakmu. Untukmu. Teman diskusiku yang selalu menyenangkan. Teman bersajak yang selalu bijak. Guruku. Darmanto Jatman.
Ah, sakmenika sampun dalu
Aku memilih ikut menjadi bersamamu
: Eling, Pracaya,
Mituhu mring Gusti
Aku memilih ikut menjadi bersamamu
: Eling, Pracaya,
Mituhu mring Gusti
-----000-----
*) nb: Tulisan ini boleh dikatakan sejenis parafrase, perubahan puisi menjadi prosa. Puisi diambil dari karya Timur Sinar Suprabana berjudul “Sampun Dalu”, yang terkumpul dalam antologi puisi “langitSemarang” terbitan Taman Budaya Jawa Tengah bekerja sama dengan Pondok Budaya GubugPenceng Semarang. Pencantuman puisi di sela-sela prosa sekedar ditujukan untuk menegaskan bahwa kalimat-kalimat dari prosa diintepretasikan dari puisi tersebut. Karena merupakan intepretasi, maka pemaknaan yang saya pahami boleh jadi berbeda dengan yang dimaksud penulis puisi yang bersangkutan. Namun, tidak ada salahnya menikmati parafrase yang disajikan dari sudut pandang berbeda ini. Semacam apresiasi puisi, demikian kata yang tepat menggambarkan tulisan di atas. Selamat menikmati.
Surakarta, 30 Juni 2011
saya merasa TERHORMAT saat menemu sajak saya ini, SAMPUN DALU, ditafsir dengan SUNGGUHSUNGGUH dan INDAH. terimakasih. ~timur sinar suprabana
BalasHapus